Gelak tawa dan Air Mata Garuda Muda di Bukit Jalil

Gelak tawa dan Air Mata Garuda Muda di Bukit Jalil

Gooseaoutletstore.com – Tendangan Amiruddin Bagus Kahfi Alfikri membuat laga Indonesia v Australia berlanjut ke set beradu penalti. Air mata juga jadi tanda-tanda perjalanan Garuda Muda di Piala Asia U-16 2018.

Timnas U-16 Indonesia mengklaim kekalahan 2-3 dari Australia di perempat final Piala Asia U-16 2018. Kekalahan ini jelas tidak biasa.

Di stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (1/10/2018), Indonesia sangat dekat dengan Piala Dunia. Persisnya saat 39 menit agar bisa tampil di level paling tinggi dari grup umur dibawah 17 tahun di Peru tahun kedepan.

Gol Sutan Diego Armando Ondriano Zico membuat Indonesia melambung di set pertama. Sutan Zico tunjukkan dianya menjadi penyerang kejam dalam laga menantang Joeys.

Kekeliruan pembela Australia dijatuhi hukuman oleh Sutan Zico dengan sepakan langsung dari pelat kotak penalti. Sekitar 13 ribu pasang mata di tribun dibikin histeris.

Kelebihan juga bertahan sampai interval. Bayang-bayang berkompetisi di Piala Dunia yang akan datang telah berada di pikiran penggemar langit hawa.

Beberapa account Instagram sudah mengupload cerita harga ticket dari Jakarta ke Peru. Mimpi itu cuma diolah sampai menit ke-51. Di set ke-2, Australia masih tetap terlihat tenang. Tidak ada photo anak-anak Trevor Morgan bermain gegabah sebab mereka dibiarkan.

Sesudah beberapa usaha penyelamatan, Ernando Ari Sutaryadi pada akhirnya mesti ambil bola dari gawangnya sendiri.

Sundulan Daniel Walsh jadi equalizer. Dalam 23 menit sesudah itu, yang diimpikan Piala Dunia betul-betul terkubur. Ada dua gol dari tim Australia, Adam Leombruno serta Noah Botic, yang mencatat nama mereka di papan score.

Indonesia selalu berjuang untuk menguber tertinggal, sampai pada akhirnya Rendy Juliansyah cetak gol pada menit akhir laga. Satu gol saja kurang untuk meneruskan Piala Dunia.

Dengan prestasi ini di perempat final Indonesia dapat bingung dengan kebanggaan. Team Merah-Putih sudah selamatkan muka ASEAN di Piala Asia 2018. Walau Australia juga sudah masuk lokasi Asia Tenggara semenjak masuk dengan AFC.

Semenjak awal acara Piala Asia U-16, rasa-rasanya seperti suatu yang aneh. Anak-anak milenium baru Indonesia dibebani dengan prestasi tinggi. Memang, beban memang seharusnya ditanggung pada tingkat yang tambah tinggi.

Seringkali memang, team perawatan Fakhri Husaini jadi penyelamat muka PSSI. Telah ada 3 judul yang diberikan oleh Brylian Negiehta Dwiki Aldama cs.

Tapi dengan tips di tingkat akar rumput yang belum juga berkepanjangan, Indonesia alami kesusahan berkompetisi di tingkat Asia. PSSI baru mulai mengadakan Liga U-16 mulai tahun ini, persisnya 15 September 2018.

Pemain timnas U-16 ialah dari hasil pertandingan yang diadakan oleh beberapa pihak swasta. Beberapa sekolah berolahraga (PPLP) juga memberikan beberapa pemain.

Baca Juga : PSG Kembali Tersenyum berkat Tuchel

Bila dibanding dengan beberapa negara elit Asia, Indonesia mesti menguber beberapa hal supaya bisa berkompetisi di papan atas.

Aplikasi pengetahuan berolahraga ialah salah satunya yang dapat dikerjakan. Nutrisi pemain ialah salah satunya aspek kunci.

Di waktu perkembangan, beberapa pemain muda ini mesti mempunyai nutrisi yang cukuplah. Ya, alasannya simpel, hingga pertumbuhannya optimal. Jika saja ada pemain yang dapat berduel dengan Walsh saat mereka bebas, mungkin yang diimpikan Indonesia untuk Piala Dunia dapat lebih lama.

Belum juga jumlahnya kursus yang masih tetap begitu kurang. Dalam ‘bertualang’ dengan Menpora Imam Nahrawi, beberapa nama standard internasional ialah satu keinginan yang diserahkan.

Pada beberapa peluang, Fakhri tetap mengutamakan pentingnya tehnik yang baik pada tingkat awal waktu. Membuat kesempatan ialah strategi, memecahkannya ialah permasalahan tehnis.

Saat ini, timnas U-16 mesti dapat mengulang apakah yang mereka kerjakan tahun kemarin. Mereka tidak berhasil keseluruhan di Piala AFF 2017, lantas bangun serta terbang tambah tinggi.

Maju ke Piala Asia 2018 dengan status juara group ialah bukti pertama. Lalu, titel yang didapat di Sidoarjo ialah bukti lainnya.

Ada pula kompetisi Japan-ASEAN Tournament Jenessys yang dihitung, dan Kompetisi Tien Phong Plastic yang dimenangkan.

Satu perihal yang cukuplah menggembirakan sesudah tidak berhasil di Bukit Jalil, walau tim nasional U-16 terserang pukulan saat di lapangan, mereka dapat tinggalkan stadion dengan kepala terangkat tinggi.

Mochammad Supriadi, Amiruddin Bagas Kaffa Arrizqi, Fadilah Nur Rahman, serta Amanar Fadillah masih tetap berumur 16 tahun. Sekurang-kurangnya, mereka mungkin masih tetap mempunyai rentang karier saat 20 tahun ke depan menjadi pesepakbola.

Menjadi, ialah pekerjaan kita bersama dengan membuat perlindungan benih-benih ini, hingga kita dapat jadi pemain sepak bola serta hari esok.

Asian Games 2022, Olimpiade Paris 2024, Piala Dunia 2026, atau beberapa edisi Piala AFF bisa berbentuk acara.